Selamat malam, sahabat pencari makna di balik batas-batas sinema. Sebelum kita memulai, saya perlu bertanya sesuatu yang jujur: Apakah Anda benar-benar siap?
Karena film yang akan kita bicarakan hari ini bukanlah tontonan biasa. Ia tidak memiliki jumpscare, tidak memiliki hantu, tidak memiliki monster bertopeng. Namun ia dianggap oleh banyak orang sebagai film paling kontroversial sepanjang masa—dilarang di lebih dari 50 negara, masih dilarang di beberapa tempat hingga hari ini, dan bahkan setelah hampir lima dekade, tetap membuat penontonnya bergidik.
Judulnya adalah Salò, or the 120 Days of Sodom (1975), karya terakhir sutradara Italia Pier Paolo Pasolini—seorang penyair, filsuf, Marxis yang percaya pada Tuhan, homoseksual yang merindukan kepolosan, dan seorang seniman yang dibunuh secara brutal sebelum filmnya sempat tayang.
Mari kita berjalan perlahan ke dalam kegelapan ini. Bukan untuk menikmatinya—karena itu tidak mungkin—tetapi untuk memahaminya.
Bukan Horor Biasa Ketika Neraka Berbentuk Vila
Cerita Salò sederhana dalam kebrutalannya. Berlatar tahun 1944, di Republik Salò—negara boneka terakhir Mussolini—empat pria berkuasa (seorang Adipati, seorang Uskup, seorang Hakim, dan seorang Presiden) menculik delapan belas remaja putra dan putri. Mereka membawa korban ke sebuah vila terpencil. Selama 120 hari berikutnya, para remaja itu disiksa, diperkosa, didehumanisasi, dan akhirnya dibunuh.
Tapi jangan bayangkan ini seperti Saw atau Hostel. Tidak ada “permainan” untuk bertahan hidup. Tidak ada harapan untuk lolos. Tidak ada pahlawan yang akan datang menyelamatkan.
Ini adalah horor yang sistematis. Penuh birokrasi. Disertai pencatatan rapi oleh para algojo. Para korban tidak memiliki nama yang berarti, tidak memiliki karakter yang membedakan—karena Pasolini sengaja menghilangkan individualitas mereka. Bukan karena ia kejam, tetapi karena ia ingin menunjukkan: ini adalah bagaimana kekuasaan absolut bekerja. Korban tidak dilihat sebagai manusia, tetapi sebagai objek.
Ada tiga lingkaran neraka dalam film ini—mengikuti struktur Dante: Lingkar Obsesi, Lingkar Kotoran, dan Lingkar Darah. Dan setiap lingkaran lebih mengerikan dari sebelumnya.
Adegan yang Tidak Bisa Anda Lupakan (dan Tidak Ingin Anda Ingat)
Saya tidak akan merinci semua yang terjadi di vila itu. Tapi saya harus jujur tentang satu hal: ada adegan-adegan yang begitu ekstrem sehingga beberapa negara masih melarang film ini hingga hari ini.
Kita berbicara tentang konsumsi paksa feses. Tentang pernikahan pura-pura antara pria dewasa dan remaja laki-laki. Tentang lidah dipotong, mata dibutakan, dan kulit dikuliti—semua direkam dengan kamera yang dingin dan indah. Sinematografer Tonino Delli Colli—yang juga mengerjakan The Good, the Bad and the Ugly dan Once Upon a Time in America—menangkap setiap adegan dengan komposisi yang sempurna, pencahayaan yang hangat, dan warna yang kaya.
Dan justru di situlah letak kengeriannya. Keindahan visual Pasolini membuat kekejaman itu terasa semakin menjijikkan, karena Anda menyadari bahwa setiap frame adalah karya seni yang menggambarkan neraka.
Satu adegan yang paling ikonik (dan paling sulit ditonton): Adipati berjongkok di meja, buang air besar di depan seorang gadis yang menangisi ibunya yang telah meninggal. Gadis itu kemudian disuruh memakan kotoran tersebut dengan sendok. Kamera tidak berkedip. Tidak ada musik dramatis. Hanya keheningan, dan tatapan kosong.
Di Balik Kekejaman Filosofi dan Kemarahan Pasolini
Mengapa seorang seniman sekaliber Pasolini membuat film seperti ini? Bukankah dia yang menyutradarai Injil Matius (1964)—film tentang Yesus yang direkomendasikan oleh Vatikan sendiri?
Jawabannya terletak pada kekecewaan besar Pasolini terhadap dunia modern. Sebelum Salò, ia menyelesaikan “Trilogi Kehidupan”—The Decameron, The Canterbury Tales, dan Arabian Nights—tiga film yang merayakan seksualitas, kebebasan, dan tubuh manusia. Tapi Pasolini kemudian menolak trilogi itu. Ia merasa bahwa revolusi seksual yang ia dukung telah berubah menjadi komoditas belaka.
“Seks saat ini adalah pemenuhan kewajiban sosial, bukan kesenangan yang diambil melawan tugas sosial,” tulisnya. Dan ia melihat bahaya yang lebih besar bukan dari penindasan politik, tetapi dari televisi, konsumerisme, dan homogenisasi budaya.
Dalam kerangka inilah Salò lahir. Pasolini mengambil novel Marquis de Sade yang ditulis tahun 1785—sebuah karya pornografi filosofis tentang kaum bangsawan yang melakukan kekejaman—dan mentransplantasikannya ke Italia fasis tahun 1944. Pesannya: Kekuasaan absolut, dalam bentuk apa pun, akan selalu menghasilkan kekejaman yang sama.
Pasolini ingin menunjukkan bahwa fasisme, kapitalisme, dan konsumerisme adalah wajah yang sama dari dehumanisasi. Di era modern, kita semua adalah korban—atau lebih buruk lagi, kita adalah algojo yang tidak menyadari bahwa kita sedang membunuh kemanusiaan kita sendiri.
Kompleksitas Apakah Ini Film Serius atau Parodi?
Salah satu interpretasi paling menarik datang dari penulis yang menyebut Salò sebagai komedi moral yang sangat gelap. Dan jika Anda melihatnya dari sudut tertentu, mereka mungkin benar.
Para algojo dalam film ini digambarkan sebagai figur yang konyol. Mereka memakai pakaian wanita untuk menikahi anak laki-laki. Mereka berdebat tentang cara terbaik mencatat “jadwal buang air” para korban seperti akuntan yang rewel. Mereka memeriksa pispot dengan saksama untuk mencari “pelanggaran”—dan ketika ketahuan, mereka marah seperti anak kecil.
Ada tawa di balik semua ini—tawa yang pahit, tawa yang tidak nyaman. Tapi tetap tawa.
John Waters, sutradara kultus di balik Pink Flamingos (yang juga menampilkan adegan makan feses anjing sungguhan), menyebut Salò sebagai “film indah melawan fasisme”. Ia melakukan ziarah ke lokasi pembunuhan Pasolini, mengumpulkan kerikil dan ranting sebagai “relikui” seperti peninggalan suci. Baginya, Salò bukan film eksploitasi—itu adalah film seni yang kebetulan memiliki nilai kejutan yang dahsyat.
Kematian Sang Sutradara Misteri yang Memperdalam Legenda
Pada 2 November 1975, beberapa minggu sebelum Salò tayang perdana, Pier Paolo Pasolini ditemukan tewas di pantai Ostia, Roma. Ia telah dipukuli dengan brutal, ditabrak mobilnya sendiri beberapa kali, dan testisnya hancur.
Seorang pemuda berusia 17 tahun, Pino Pelosi, mengaku membunuh Pasolini—mengklaim bahwa sutradara itu melakukan kekerasan seksual padanya. Tapi Pelosi kemudian mencabut pengakuannya, dan hingga hari ini, kematian Pasolini tetap menjadi misteri. Teori konspirasi berkembang: Mafia? Ekstremis kanan? Agen asing? Atau sekadar pelacur yang panik?
Yang tidak terbantahkan adalah: Pasolini meninggal dengan cara yang mengerikan—seperti keluar dari filmnya sendiri. Dan ironi tragis ini selamanya melekat pada Salò, membuatnya semakin sulit dipisahkan dari kematian penciptanya.
Apakah Anda Harus Menontonnya?
Saya tidak akan pernah mendorong siapa pun untuk menonton Salò. Ini bukan rekomendasi biasa. Ini adalah peringatan.
Jika Anda memutuskan untuk menontonnya—karena rasa penasaran intelektual, karena ingin memahami salah satu film paling penting dalam sejarah sinema, atau karena ingin menguji batas Anda sendiri—lakukan dengan persiapan. Tonton tidak sendirian. Siapkan jeda. Dan terima bahwa Anda akan membawa beberapa gambar di kepala Anda selamanya.
Tapi jika Anda menontonnya dengan benar—dengan konteks, dengan pengetahuan tentang siapa Pasolini dan apa yang ia coba katakan—Anda tidak akan hanya merasa jijik. Anda akan merenung. Tentang kekuasaan. Tentang konsumerisme. Tentang bagaimana dunia modern perlahan-lahan membuat kita menjadi algojo yang tidak sadar.
Sebuah Warisan yang Tidak Bisa Diabaikan
Salò bukan film horor. Ia adalah luka terbuka di tubuh sinema. Tapi seperti luka, ia mengingatkan kita bahwa di bawah permukaan kulit yang mulus, ada darah dan daging yang rapuh.
Pasolini membayar dengan nyawanya untuk membuat pernyataan ini. Dan kita, setengah abad kemudian, masih bergidik saat mendengar namanya.
Terima kasih sudah memiliki keberanian untuk membaca hingga akhir. Sampai jumpa di artikel horor berikutnya—yang semoga tidak perlu sepahit ini.
Tags:

Leave a Reply