Selamat malam, sahabat pencari makna di balik setiap bayangan. Izinkan saya memulai dengan sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin Anda pikirkan, semakin mengganggu: Siapa orang yang paling Anda benci di dunia ini?
Mungkin mantan kekasih. Mungkin atasan Anda. Mungkin tetangga yang suka memarkir mobil sembarangan. Tapi bagaimana jika jawabannya adalah… diri Anda sendiri? Bukan diri Anda yang sekarang, melainkan versi lain dari Anda yang hidup dalam penderitaan, kemiskinan, dan keputusasaan, sementara Anda menikmati hidup yang nyaman di atas sana?
Selamat datang di dunia Us—film horor paling cerdas, paling ambisius, dan paling mengganggu dari Jordan Peele, sang sutradara yang sebelumnya mengguncang dunia lewat Get Out. Dan percayalah: setelah menonton film ini, Anda tidak akan pernah bisa melihat bayangan Anda di cermin dengan cara yang sama.
Dua Keluarga, Satu Wajah, dan Gunting Merah
Mari kita mulai dari awal. Tahun 1986. Adelaide (diperankan oleh Madison Curry sebagai versi kecil) sedang berlibur bersama orang tuanya di Santa Cruz, California. Dia berjalan-jalan sendirian di pantai, masuk ke rumah funhouse, dan menemukan sebuah ruangan cermin yang gelap. Di dalamnya, dia bertemu dengan dirinya sendiri. Bukan refleksi—tetapi makhluk lain yang memiliki wajah persis sama, berdiri di seberangnya, dengan tangan berlumuran darah dan suara serak yang menakutkan. Adelaide pingsan. Ketika dia bangun, dia tidak pernah berbicara tentang apa yang terjadi.
Lompat ke masa kini. Adelaide (kini diperankan oleh Lupita Nyong’o) sudah dewasa, menikah dengan Gabe (Winston Duke), dan memiliki dua anak: Zora (Shahadi Wright Joseph) dan Jason (Evan Alex). Mereka pergi berlibur ke rumah pantai yang sama—Santa Cruz. Adelaide gelisah. Ada firasat buruk yang tidak bisa dia jelaskan.
Malam itu, ketika mereka baru saja tidur, empat sosok berdiri di ujung jalan masuk rumah. Berpegangan tangan. Diam. Tidak bergerak. Ketika Gabe keluar untuk mengusir mereka, dia terkejut: keempat sosok itu adalah duplikat dari keluarganya. Mereka mengenakan jumpsuit merah, memegang gunting emas, dan tidak bisa berbicara dengan normal—suara mereka seperti serak, seperti mesin rusak.
Pemimpin mereka, Red (juga Lupita Nyong’o), yang merupakan duplikat dari Adelaide, berkata dengan suara yang hampir tidak manusiawi:
“We’re Americans.”
Itulah saat segalanya berubah. Dari invasi rumah sederhana, Us melebar menjadi invasi nasional. Di seluruh Amerika, jutaan orang yang mengenakan jumpsuit merah muncul dari bawah tanah, berpegangan tangan membentuk rantai manusia, dan mulai membantai—atau menggantikan—versi permukaan mereka.
The Tethered Bayangan yang Terlupakan
Jordan Peele menciptakan konsep yang brilian: The Tethered (yang Terikat). Mereka adalah duplikat dari setiap orang Amerika yang hidup di jaringan terowongan bawah tanah yang luas. Mereka diciptakan oleh pemerintah dalam eksperimen rahasia yang gagal, lalu ditinggalkan dan dilupakan. Mereka tidak memiliki suara, tidak memiliki pendidikan, tidak memiliki cahaya. Mereka hanya bisa meniru gerakan versi permukaan mereka—ketika Anda makan, mereka makan; ketika Anda tertawa, mereka menangis; ketika Anda tidur nyenyak, mereka terjaga dalam kegelapan.
Selama bertahun-tahun, mereka hidup dalam penderitaan diam. Dan suatu hari, Red memutuskan sudah waktunya untuk bergerak. Bukan lagi meniru, tetapi menggantikan.
Ini adalah metafora yang sangat kaya. Us bisa dibaca sebagai kritik terhadap ketidaksetaraan sosial: mereka yang hidup di atas (kaya, berpendidikan, beruntung) dan mereka yang hidup di bawah (miskin, terpinggirkan, tanpa suara). Bisa juga sebagai alegori tentang kelas bawah yang bangkit melawan penindasan. Atau tentang bagaimana Amerika dibangun di atas penderitaan orang-orang yang tidak terlihat.
Tapi Peele tidak pernah menggurui. Dia membiarkan kita merenung sendiri, sementara di layar, dua Lupita saling berhadapan, dan salah satu dari mereka berkata:
“We’re the same. You and me. Just different circumstance.”
Lupita Nyong’o: Dua Karakter, Dua Kinerja Luar Biasa
Saya harus berhenti sejenak untuk memberi penghormatan pada Lupita Nyong’o. Untuk memerankan Adelaide dan Red secara bersamaan adalah sebuah pencapaian akting yang luar biasa. Adelaide adalah seorang ibu yang protektif, cemas, dan penuh trauma masa kecil. Red adalah makhluk yang rapuh namun mengancam, dengan suara serak yang terdengar seperti tulang yang bergesekan, dan gerakan tubuh yang kaku seperti baru pertama kali belajar berjalan.
Ada satu monolog Red yang membuat saya merinding setiap kali mengingatnya. Dia bercerita tentang bagaimana rasanya menjadi The Tethered—hidup dalam kegelapan, memakan kelinci mentah, dan hanya bisa “merasakan” kebahagiaan versi permukaan melalui getaran. Dan di akhir monolog itu, dia berkata:
“I have a voice. And for the first time… I’m using it.”
Itu adalah momen yang menyayat hati sekaligus menakutkan. Kita bersimpati pada Red, tetapi kita juga takut padanya. Dan di situlah kejeniusan Peele: dia membuat kita tidak tahu harus berpihak pada siapa.
Simbol-Simbol yang Tidak Berhenti Menggoda
Saya bisa menulis puluhan halaman tentang simbolisme dalam Us. Gunting emas (melambangkan pemotongan ikatan, atau pemisahan antara atas dan bawah). Kelinci putih (simbol reproduksi, kepolosan, dan juga korban eksperimen). Jumpsuit merah (warna darah, warna revolusi, warna partai komunis—atau sekadar warna yang kontras dengan biru laut). Lagu “I Got 5 On It” yang diubah menjadi komposisi orkestra yang mencekam.
Dan tentu saja, adegan paling ikonik: The Tethered berpegangan tangan melintasi Amerika, membentuk rantai manusia sepanjang pantai. Adegan ini mengingatkan kita pada poster Hands Across America tahun 1986—sebuah gerakan amal yang bertujuan menggalang dana untuk kelaparan dan tunawisma. Ironisnya, The Tethered adalah produk dari kemiskinan dan pengabaian yang ingin diatasi oleh gerakan itu. Mereka adalah tangan-tangan yang melintasi Amerika—tetapi bukan untuk beramal, melainkan untuk membunuh.
TWIST AKHIR Ketika Segalanya Terbalik
Spoiler besar akan segera datang. Jika Anda belum menonton Us, saya sangat menyarankan Anda berhenti di sini, tonton filmnya, lalu kembali lagi.
Masih di sini? Baik.
Di menit-menit akhir, Us mengungkap rahasia yang mengubah seluruh cerita. Adelaide ternyata bukan Adelaide asli. Di ruang cermin tahun 1986, kedua gadis itu—Adelaide permukaan dan Red yang terikat—bertukar tempat. Red yang asli (dari atas) ditarik ke bawah dan dipaksa menjadi The Tethered. Sementara Adelaide yang kita ikuti sepanjang film adalah Red asli yang berhasil kabur ke permukaan dan menggantikan hidup Adelaide.
Dengan kata lain: tokoh utama kita adalah penipu. Dia telah hidup selama puluhan tahun dengan identitas curian, sementara versi aslinya menderita di bawah tanah. Dan ketika Red (Adelaide asli) akhirnya bangkit untuk menuntut kembali hidupnya, kita sebagai penonton dipaksa bertanya: Siapa sebenarnya korban? Siapa sebenarnya penjahat?
Tidak ada jawaban mudah. Dan itulah yang membuat Us terngiang di kepala berhari-hari setelahnya.
Sebuah Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab
Jordan Peele pernah berkata dalam sebuah wawancara bahwa Us adalah film tentang “monster di dalam diri kita sendiri”—bukan monster yang datang dari luar, tetapi monster yang lahir dari trauma, ketidakadilan, dan pilihan yang tidak pernah kita buat.
Setelah menonton film ini, saya pulang ke rumah dan berdiri lama di depan cermin. Saya bertanya pada bayangan saya: “Apakah kamu di sana? Apakah kamu menderita? Apakah suatu hari nanti kamu akan bangkit dan menuntut hidup yang seharusnya menjadi milikmu?”
Bayangan saya tidak menjawab. Tapi sejak malam itu, saya tidak pernah lagi memandangnya dengan cara yang sama.
Us bukan sekadar film horor. Ia adalah pengalaman spiritual yang mengganggu. Ia adalah undangan untuk melihat ke dalam diri kita sendiri dan mengakui bahwa kita mungkin tidak sebaik yang kita kira. Dan ia adalah peringatan bahwa setiap tindakan memiliki sisi lain yang tersembunyi—dan suatu hari, sisi itu akan berbicara.
Terima kasih sudah membaca hingga akhir. Sampai jumpa di artikel horor berikutnya. Dan ingat: di mana pun Anda berada, di bawah sana, seseorang yang persis sama dengan Anda sedang menunggu. Dan dia sangat, sangat lapar.

Leave a Reply